Kolaborasi Pengelolaan dan konservasi cempaka di Sulawesi Utara

Kategori: Berita Utama Ditayangkan: Kamis, 12 Maret 2020 Ditulis oleh Administrator

BP2LHK MANADO (Manado, 12/03/2020) Minat yang kurang untuk menanam kayu cempaka dari masyarakat Sulawesi Utara menjadikan kayu cempaka semakin langka dan sulit untuk didapatkan. Hal inilah yang menjadikan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado bekerjasama dengan International Tropical Timber Organization (ITTO) melalui proyek ITTO PD 646/12 REV.3 (F) “Initiating the Conservation of Cempaka Tree Species (Elmerrillia sp.) through Plantation Development with the Local Community Participation in North Sulawesi, Indonesia” mengadakan Forum Group Discussion (FGD) dengan tema “Kolaborasi Pengelolaan dan Konservasi Cempaka di Sulawesi Utara” (11/03/2020).

FGD sendiri membahas tiga activity yang ada pada proyek ITTO PD 646/12 Rev.3 (F) yaitu activity 2.4 Kolaborasi dalam mengidentifikasi dan memperkenalkan insentif yang tepat kepada masyarakat untuk menanam cempaka, activity 2.5 Kolaborasi dalam mengembangkan program penyuluhan tentang konservasi cempaka dan activity 3.4 Mengembangkan SOP dan mengumpulkan perlengkapan serta fasilitas untuk monitoring dan pemantauan legalitas kayu.

Kepala BP2LHK Manado, Mochlis, S.Hut.T, MP ketika memberikan sambutan mengatakan bahwa secara umum, tujuan project ini untuk berkontribusi dalam konservasi spesies cempaka di Sulawesi Utara. “Tujuan project adalah untuk berkontribusi dalam konservasi cempaka di Sulawesi Utara sedangkan tujuan spesifik dari project ini adalah mendorong dan mengkampanyekan upaya konservasi dan pengembangan hutan tanaman cempaka dengan melibatkan masyarakat lokal khususnya di Sulawesi Utara,” Kata Mochlis.

Mochlis juga menambahkan dalam FGD ini diharapkan mendapat masukan-masukan yang berarti dari stakeholder kehutanan Sulawesi Utara untuk suksesnya project cempaka ini. ”Kami berharap dari diskusi ini mendapatkan masukan dari bapak-ibu peserta sehingga kegiatan upaya konservasi dan pengembangan hutan tanaman cempaka dengan berjalan dengan baik,” tambah Mochlis.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Drs. Marhaen Tumiwa, M.Pd saat membuka acara berpesan kepada peserta FGD bahwa pertemuan  ini merupakan momen yang bagus sebagai salah satu upaya untuk menjaring masukan dan saran dalam pengelolaan dan konservasi Cempaka di Sulawesi Utara serta mengajak para peserta untuk berdiskusi dengan seksama untuk hasil yang maksimal. “Saya berharap hasil diskusi ini bisa diimplementasikan dengan baik di masyarakat, karena percuma saja kalo kita sudah berdiskusi dan merumuskan sesuatu tetapi tidak diimplementasikan dan diterapkan di masyarakat,” Pesan Marhaen.

FGD yang berlangsung di Hotel Aryaduta Manado ini dihadiri oleh peserta undangan yang terdiri atas Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Kelompok Tani Hutan dengan jumlah peserta ± 82 orang. Beberapa poin yang dirumuskan dalam kegiatan ini diantaranya Tersosialisasikannya materi panduan mengenai strategi dan program penyuluhan pengelolaan cempaka dan program pemberian insentif yang tepat dalam rangka meningkatkan minat masyarakat untuk menanam cempaka serta tersusunnya SOP untuk monitoring dan pemantauan legalitas kayu cempaka di Sulawesi Utara. ***(Muhammad Farid).

Dokumentasi : Harwiyaddin Kama

------------------------------------------------------------------------------------

Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manado

Jl. Raya Adipura Kel. Kima Atas, Kec. Mapanget, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Indonesia)

 

Email :

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Website :

www.manado.litbang.menlhk.go.id

www.balithut-manado.org

E-Jurnal :

http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JWAS

Dilihat: 51