“Paniki” Pemencar Biji dan Penyerbuk Bunga Yang Perlu Penelitian di Bioregion Wallacea

Kategori: Berita Utama Ditayangkan: Rabu, 11 November 2020 Ditulis oleh Administrator

BP2LHK MANADO, Indonesia memiliki keragaman jenis kelelawar yang cukup tinggi yaitu sebanyak 21% dari total jenis kelelawar di dunia. kelelawar yang dikenal dengan nama “paniki” oleh masyarakat di Sulawesi Utara memiliki peran yang penting bagi kelangsungan ekologi serta kehidupan manusia. Peran kelelawar diantaranya sebagai agen pemencar biji, penyerbuk bunga pada beberapa jenis tumbuhan, sebagai pemakan serangga yang penting dalam pengendalian populasi hama untuk lahan-lahan pertanian maupun perkebunan.

Diah Irawati Dwi Arini, S.Hut, M.Sc Peneliti  Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado yang pernah melakukan kegiatan penelitian terkait dengan keberadaan kelelawar di kawasan konservasi di Sulawesi Utara pada kurun waktu 2009-2010 mengatakan bahwa ada tujuh spesies kelelawar di dua kawasan konservasi yaitu Cagar Alam Gunung Ambang pada ketinggian tempat 820-1330 mdpl dan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone pada ketinggian tempat 40-885 m dpl.

“Dari identifikasi kami terdapat jenis dari 26 individu kelelawar kemudian dikelompokan menjadi tujuh spesies, Enam termasuk famili Pteropodidae dan satu jenis famili Vespertilionidae dengan jumlah individu terbanyak adalah jenis Celebes Rousette (Rousettus celebensis K. Andersen, 1907),” Kata Arini.

Arini mejelaskan bahwa untuk jenis Celebes Rousette (Rousettus celebensis K. Andersen, 1907) ada 13 individu. “Selain jenis Celebes Rousette (Rousettus celebensis K. Andersen, 1907) jenis lain yang kami temukan adalah Sulawesi Dog- faced Fruit-bat (Cynopterus luzoniensis Peters, 1861) dan Black Flying-fox (Pteropus alecto Temminck, 1837) masing-masing tiga individu, Greater Long-tounged Fruit-bat (Macroglossus minimus  Geoffroy, 1810), Sulawesi Fruit Bat (Acerodon celebensis Peters, 1967), Pallas’Tube-nosed Bat (Nyctimene cephalotes Pallas 1767) dan satu jenis belum dapat diidentifikasi jenisnya dari famili Vespertilionidae,” jelas Arini.

Lebih lanjut berdasarkan tipe makananannya, kelelawar dalam penelitian ini dapat digolongkan menjadi dua yaitu Nectarivorus atau pemakan nektar dan Frugivorus atau pemakan buah. “Untuk pemakan nektar yaitu spesies Macroglossus minimus dan Pteropus alecto sedangkan ke-enam spesies lainnya dikategorikan sebagai Frugivorus atau pemakan buah Sementara itu berdasarkan distribusinya hanya diketahui dua spesies merupakan endemik Sulawesi yaitu Rousettus celebensis  dan  Acerodon celebensis,” lanjut Arini.

Menurut Arini, Informasi yang telah dihasilkan dalam penelitian keragaman jenis kelelawar ini terutama di bioregion Wallacea masih belum banyak diketahui sehingga penelitian lebih lanjut sangatlah diperlukan. “Penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi keragaman jenis  di wilayah ini dan bagaimana perananannya bagi lingkungan masih sangat diperlukan karena Minimnya penelitian tentang kelelawar di bioregion Wallacea,” tutup Arini. **(DID)

Dokumentasi               : Diah Irawati Dwi Arini

 

 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manado

Jl. Raya Adipura Kel. Kima Atas, Kec. Mapanget, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Indonesia)

 

Email :

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Website :

www.manado.litbang.menlhk.go.id

www.balithut-manado.org

E-Jurnal :

http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JWAS

Dilihat: 43