Kategori: Artikel

(BP2LHK MANADO) Konservasi exsitu satwa liar menjadi salah satu pilihan untuk mendukung kelestarian suatu jenis satwa liar dari ancaman kepunahan yang dilakukan di luar habitat aslinya. Dalam manajemen konservasi  exsitu satwa liar, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, salah satunya adalah kesehatan.

Selengkapnya: Manajemen Kesehatan, Bagian Upaya Pertahankan Anoa dari Kepunahan

Menilik Keragaman Jamur Makroskopis di Arboretum BP2LHK Manado

Kategori: Artikel
Ditayangkan: Senin, 04 Mei 2020
Ditulis oleh Muhammad Farid

BP2LHK MANADO (27/04/2020) Arboretum Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manado (BP2LHK Manado) merupakan aset yang penting di masa depan khusus bagi ekosistem. Arboretum BP2LHK Manado sejak 2010 hingga saat ini memiliki koleksi 121 jenis pohon dengan sebagian besar adalah jenis tumbuhan Wallacea antara lain cempaka, kayu hitam, pakoba, dll. Sungguh disayangkan, potensi hayati yang dimiliki belum banyak digali, termasuk keragaman jenis jamurnya.

Selengkapnya: Menilik Keragaman Jamur Makroskopis di Arboretum BP2LHK Manado

Pinogu, Desa di Pedalaman Gorontalo dengan Masyarakat Mandiri dari Pemanfaatan Sumberdaya Hutan

Kategori: Artikel
Ditayangkan: Selasa, 28 April 2020
Ditulis oleh Muhammad Farid

BP2LHK MANADO, Desa Pinogu secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Luas wilayah Kecamatan Pinogu 406,78 km2 yang terbagi ke dalam lima desa yaitu Pinogu Induk, Bangiyo, Pinogu Permai, Dataran Hijau, dan Tilongibila. Masyarakat Pinogu hidup secara sederhana dan jauh dari kota dengan akses ke Desa Pinogu yang terbilang sulit yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki melewati kawasan Taman Nasional Boganinani Wartabone (TNBNW) selama lebih kurang 10 jam atau menggunakan kendaraan bermotor dengan jarak tempuh sekitar 40 km dari Desa Tulabolo.

Selengkapnya: Pinogu, Desa di Pedalaman Gorontalo dengan Masyarakat Mandiri dari Pemanfaatan Sumberdaya Hutan

Pengaruh Invasi Spathodea campanulata Beauv Terhadap Struktur Ekologi Taman Hutan Rakyat (Tahura) Gunung Tumpa Provinsi Sulawesi Utara

Kategori: Artikel
Ditayangkan: Senin, 07 Januari 2019
Ditulis oleh Muhammad Farid

Oleh :

Supratman Tabba, S.Hut, M.Sc.Agr

Teknisi Litkayasa Penyelia BP2LHK Manado

Department of Forest science Chungbuk National university

Republic of Korea

 

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi kelimpahan spesies, struktur dan komposisi tegakan Spathodea di kawasan Tahura Gunung Tumpa serta menganalisis dampak negative dan positif dari keberadaan spesies ini terhadap struktur ekologi kawasan.

Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa dominansi spatodea atau yang sering masyarakat lokal sebut sebagai kayu bunga (karena bunganya yang bagus) sangat tinggi, terus mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya jika dibandingkan dari hasil penelitian sebelumnya. Saat ini kerapatan spatodea mencapai 562 pohon/ha.

Dominansinya yang konsisten pada semua tingkat pertumbuhan pohon mengakibatkan kurangnya atau semakin menekan pertumbuhan spesies alami lainnya. Sehingga keanekaragaman hayati di kawasan yang telah terinvasi spatodea cenderung lebih rendah dibandingkan keanekaragaman hayati di bagian wilayah yang belum terinvasi spesies ini.

 

Meski tumbuhan ini telah dinyatakan invasif diseluruh dunia namun belum ditetapkan sebagai jenis invasif di Indonesia. Karena parameter untuk bisa dikatakan tumbuhan invasif adalah apabila suatu jenis tumbuhan telah mengakibatkan kerusakan secara ekologi dan ekonomis. Sebaiknya kasus kasus dimana Spathodea menjadi invasive di kompilasi untuk dijadikan argumentasi dalam memperkuat alasan agar jenis ini dapat dimasukkan dalam daftar spesies invasive yang memerlukan penanganan kementerian LHK. 

Rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian ini adalah agar Spatodea campanulata dapat dipertimbangkan untuk ditetapkan sebagai tumbuhan invasif di Indonesia mengingat bahwa tumbuhan ini belum masuk dalam daftar tumbuhan invasif   yang tetah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.94/MENLHK/Setjen/Kum.1/12/2016 tentang invasif spesies.

Sebab penetapan tersebut adalah pintu masuk yang dapat melegalkan tindakan yang akan dilakukan terhadap Spathodea. Mengingat bahwa kawasan konservasi merupakan wilayah yang dilindungi oleh Undang-Undang sehingga segala tindakan yang merusak apalagi membunuh suatu spesies dalam biodivesitas yang ada di dalam-nya adalah melanggar hukum. Beberapa kawasan konservasi yang juga dilaporkan terinvasi oleh Spathodea campanulata yaitu Cagar Alam Tangkoko Batuangus dan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

 

Analisis Manfaat Clerodendrum minahassae Teijsm. Et Binn sebagai Produk Biologi untuk Penghidupan Masyarakat di Sulawesi Utara

Kategori: Artikel
Ditayangkan: Senin, 07 Januari 2019
Ditulis oleh Muhammad Farid

Oleh:

Lis Nurrani, S.Hut, MS

Peneliti Muda BP2LHK Manado

Department of Sustainable Development

Yeungnam University

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai manfaat Leilem (Clerodendrum minahassae) yang merupakan tanaman endemik Sulawesi Utara dan potensinya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat disekitarnya.

Hasil studi ethnobotani menunjukkan bahwa Leilem memiliki ragam manfaat bagi masyarakat Sulut terutama suku Minahasa diantaranya adalah sebagai sayuran, bahan pelengkap/rempah-rempah kuliner khas Sulut dan bahan herbal untuk menyembuhkan beberapa penyakit yang terkait dengan gangguan saluran pencernaan serta sebagai pagar hidup karena bunganya yang indah dipajang menjadi ornamental tree.

Hal yang menarik dari penelitian ini adalah hampir seluruh masyarakat sepakat bahwa leilem bagus digunakan sebagai rempah campuran dalam masakan khas yang berbahan dasar daging. Dan berdasarkan hasil analisis kandungan nutrisinya, daun leilem tinggi akan kandungan vitamin C dan vitamin E hingga mencapai 389,23 mg/100 g dan 435,97 mg/g. Artinya selama ini masyarakat telah memiliki kearifan lokal tersendiri dalam memanfaatakan tumbuhan liar yang ada disekitarnya untuk keseimbangan imun tubuh pengkonsumsinya.

Saat ini penggunaan leilem sebagai bahan pelengkap masakan masih didominasi dalam campuran daging babi yang biasa disebut masakan “Ba Leilem” dan daging-daging liar hasil buruan. Oleh karenanya sebaiknya dilakukan kreasi masakan yang menggunakan daging alam agar kuliner leilem dapat dinikmati.

Identifikasi prefeensi masyarakat sangat diperlukan, sehingga kebutuhan akan daun leilem meningkat dan kedepannya berpotensi untuk dikembangkan dalam skala industry mengingat hasil anlisis antioksidan menunjukan bahwa daun leilem potensial sebagai moderate antioksidan alami.

Rekomendasi yang diajukan dari hasil studi ini adalah mengedukasi masyarakat terkait nilai manfaat dan nutrisi leilem serta mendorong pemerintah daerah setempat untuk menetapkan leilem sebagai salah satu bahan pangan lokal yang potensial.

 

SISTEM AGROFORESTRI SEBAGAI INSTRUMEN KEMITRAAN DI KAWASAN KPHP MODEL POIGAR

Kategori: Artikel
Ditayangkan: Kamis, 26 April 2018
Ditulis oleh Muhammad Farid

POPULASI SATWA ENDEMIK TALAUD “BURUNG SAMPIRI” KIAN HARI KIAN MENGHAWATIRKAN

Kategori: Artikel
Ditayangkan: Kamis, 26 April 2018
Ditulis oleh Muhammad Farid