Menilik Keragaman Jamur Makroskopis di Arboretum BP2LHK Manado

Kategori: Artikel Ditayangkan: Senin, 04 Mei 2020 Ditulis oleh Administrator

BP2LHK MANADO (27/04/2020) Arboretum Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manado (BP2LHK Manado) merupakan aset yang penting di masa depan khusus bagi ekosistem. Arboretum BP2LHK Manado sejak 2010 hingga saat ini memiliki koleksi 121 jenis pohon dengan sebagian besar adalah jenis tumbuhan Wallacea antara lain cempaka, kayu hitam, pakoba, dll. Sungguh disayangkan, potensi hayati yang dimiliki belum banyak digali, termasuk keragaman jenis jamurnya.

Jamur memiliki peran yang vital dalam proses ekologi. Jamur makroskopis akan memproduksi enzim lignoselulosa yang berperan dalam perombakan nekromassa. Jamur merupakan salah satu indikator kesehatan suatu ekosistem. Semakin tinggi keragaman dan populasi jamur maka proses aliran energi dan materi akan semakin meningkat, sehingga ekosistem menjadi lebih stabil. Jamur juga memiliki berbagai potensi yang belum tergali sebagai bahan obat maupun pangan. 

Anita Mayasari, S. Hut, salah satu peneliti di BP2LHK Manado yang telah melakukan observasi keanekaragaman jamur mikroskopis pada arboretum jenis-jenis pohon asal Wallaceae di BP2LHK Manado menemukan bahwa terdapat sebanyak 48 jenis jamur yang tumbuh di kawasan arboretum. Sebanyak 39 jenis berhasil diidentifikasi hingga ke tingkat spesies dan termasuk ke dalam 17 famili jamur makroskopis. Berdasarkan potensinya jamur yang ada di arboretum dikelompokkan ke dalam jamur beracun 2 jenis yaitu Hypholoma sp.1 dan Hypholoma sp. 2, bahan pangan dan obat 1 jenis yaitu Pleuratus ostreatus, pangan 2 jenis yaitu Calvatia cyathiformis dan Tramella fuciformis, serta berpotensi sebagai obat 5 jenis yaitu Lycoperdon sp.1, Lycoperdon sp. 2, Ganoderma lucidum, Calocera sp., Xylaria hypoxylon dan Xylaria sp. Menilik potensi dari jenis-jenis jamur tersebut, bukan tidak mungkin 9 jenis jamur lain yang tidak teridentifikasi juga menyimpan potensi yang sama besar.

Berdasarkan keragaman jamur yang ditemukan, tingkat kesehatan ekosistem arboretum tidak jauh berbeda dengan hutan wisata maupun kawasan konservasi yang ada di Sulawesi Utara yang memiliki keragaman jenis jamur yang tinggi. “Ketersediaan biomassa di lokasi juga diyakini memiliki pengaruh terhadap keragaman jenis jamur yang tumbuh dibandingkan karakter agroklimat,” lanjut Anita.

Lebih lanjut menurut Anita diharapkan data dan informasi tentang keragaman jamur ini dapat digunakan untuk melengkapi panduan pengelolaan jamur dan arboretum. Janis-jenis jamur makroskopis yang belum teridentifikasi juga dapat diteliti lebih lanjut sehingga informasi peranan dan interaksi setiap jamur dalam proses ekologi bisa diketahui untuk pengembangan arboretum kedepannya.  Penelitian yang dilakukan oleh Anita dan timnya telah dipublikasikan di Jurnal Wasian edisi 5 nomor 2 tahun 2018 , dapat ditelusuri pada tautan berikut  http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JWAS/article/view/4380

 Dokumentasi                          : Anita Mayasari & Ady Suryawan

 

------------------------------------------------------------------------------------

Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manado

Jl. Raya Adipura Kel. Kima Atas, Kec. Mapanget, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Indonesia)

 

Email :

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Website :

www.manado.litbang.menlhk.go.id

www.balithut-manado.org

E-Jurnal :

http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JWAS

Dilihat: 1451