Mengenal Anoa, Satwa Langka Endemik Sulawesi

Kategori: Berita Utama Ditayangkan: Kamis, 20 Januari 2022 Ditulis oleh Dokter Afifah Hasnah

Sulawesi memiliki keanekaragaman fauna dengan tingkat endemisitas yang tinggi. Itu artinya berbagai jenis satwa yang secara alamiah terdapat di Sulawesi tidak dapat dijumpai di tempat lain. Salah satu contohnya yaitu anoa, satwa langka yang persebarannya terbatas di Pulau Sulawesi dan Pulau Buton saja.

Seekor anoa dataran rendah (Bubalus depressiocornis) di Anoa Breeding Centre Manado

 

Anoa memiliki morfologi tubuh menyerupai kerbau dengan rambut berwarna kecoklatan dan tanduk yang meruncing. Namun, ukuran tubuh anoa jauh lebih kecil yaitu hanya sekitar 69-106 cm atau setinggi paha orang dewasa sehingga anoa dijuluki sebagai ‘kerbau kerdil’ atau ‘kerbau cebol’ (dwarf buffalo). Secara taksonomi, anoa juga memiliki kekerabatan yang dekat dengan kerbau dan termasuk kedalam marga  atau genus yang sama, yaitu Bubalus.

Hingga saat ini, anoa diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressiocornis) dan anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). Sesuai namanya, anoa pegunungan memiliki habitat di hutan pegunungan dengan iklim yang relatif lebih dingin. Sebagai teknik untuk beradaptasi, anoa pegunungan memiliki rambut yang lebih tebal seperti wol dibandingkan anoa dataran rendah. Selain itu, anoa pegunungan juga memiliki kaki dan postur tubuh yang lebih kecil untuk memudahkannya bergerak  lincah melewati medan yang terjal.

 
Seekor anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) di Anoa Breeding Centre Manado

 

Bagi sebagian masyarakat, anoa dengan tanduknya yang runcing dianggap sebagai hewan yang sangat agresif dan dapat menyerang manusia. Padahal kenyataannya, anoa merupakan satwa pemakan tumbuhan (herbivora) dengan pakan yang bervariasi mulai dari rerumputan, dedaunan, hingga buah-buahan. Label agresif pada anoa sebenarnya berkaitan dengan sifatnya yang sangat pemalu dan selalu menghindari manusia. Seperti satwa liar pada umumnya, anoa dapat menyerang manusia hanya dalam kondisi ketika dirinya merasa terancam.

Sayangnya, keberadaan anoa di hutan-hutan Sulawesi kini semakin sulit dicari. Populasi anoa setiap tahunnya kian mengalami penurunan akibat perburuan oleh manusia dan berkurangnya habitat alami anoa karena pengalihan fungsi hutan menjadi lahan pertambangan atau perkebunan. Oleh karena itu, anoa ditetapkan sebagai salah satu satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) P106 Tahun 2018.

Berdasarkan International Union for Conservation of Natural Resources (IUCN) Red List, anoa memiliki status konservasi terancam punah (endangered). Populasinya di alam diperkirakan kurang dari 2500 individu. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) pun menetapkan anoa kedalam Appendix I yang menandakan bahwa satwa tersebut dilarang untuk diperjualbelikan dalam segala bentuk perdagangan internasional.

Sebagai upaya untuk meningkatkan populasinya, anoa ditetapkan kedalam 25 Satwa Terancam Punah Prioritas berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam (Dirjen KSDA) No. 180 Tahun 2015. Untuk mendukung upaya tersebut, BPSILHK Manado yang dulunya Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Manado bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara melakukan konservasi eksitu Anoa sejak tahun 2011.

Dimana anoa tersebut yang berada di BPS2LHK Manado dijadikan bahan riset dari berbagai aspek. Dan pada februari 2015 breeding center of anoa atau lebih kenal dengan ABC (Anoa breeding center) diresmikan oleh ibu menteri LHK, Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc. dan Selama beberapa tahun terakhir, tercatat adanya 3 kelahiran individu anoa di (ABC) Anoa Breeding Centre dengan total populasi kini berjumlah 9 ekor.

 

Dilihat: 2177