Dua Pegawai BP2LHK Mempresentasikan Hasil Studinya di Depan Para Stakeholders

Kategori: Berita Utama Ditayangkan: Rabu, 28 November 2018 Ditulis oleh Administrator

BP2LHK MANADO (Manado, 27/11/2018) Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.14/P2SDM/SET/PEG.1/12/2017 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Presentasi Hasil Studi Bagi Pegawai Negeri Sipil Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, setiap ASN Kementerian LHK yang telah menyelesaikan tugas belajar dan izin belajar diwajibkan untuk mempresentasikan hasil studinya didepan para pejabat struktural dan pejabat fungsional lingkup Kementerian LHK dan pihak lain yang terkait dengan topik tesisnya.  Kegiatan presentasi ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh ASN untuk pencantuman gelar baru yang diperoleh dan untuk pengaktifan kembali di unit kerja masing-masing ataupun di unit kerja yang direkomendasikan berdasarkan dengan potensi keahlian yang dimilikinya.

Presentasi ilmiah yang sebelumnya dipusatkan di Pusdiklat SDM Lingkungan hidup dan kehutanan namun sesuai peraturan yang baru bahwa mulai tahun 2018 penyelenggara pertemuan ilmiah terdiri dari tiga instansi yaitu a). Biro Umum atau Sekretariat Direktorat jenderal/Inspektorat Jenderal/Badan, untuk ASN melalui tugas belajar jenjang strata-2 yang berkerja di Pusat; b). Koordinator Wilayah UPT, untuk ASN melalui tugas belajar yang bekerja di UPT Kementerian LHK dan c). Pusdiklat SDM LHK, untuk ASN yang melaksanakan tugas belajar dan izin belajar jenjang strata-3.

Oleh karenanya, Senin (26/11) dua pegawai BP2LHK Manado yang telah menyelesaikan tugas belajar jenjang strata-2 melaksanaan presentasi ilmiah yang diselenggarakan di aula BKSDA Sulawesi Utara selaku Korwil UPT Kementerian LHK di Provinsi Sulawesi Utara. Ini merupakan kali pertamanya pertemuan ilmiah diselenggarakan di Korwil UPT sejak peraturan yang baru diberlakukan. Pertemuan ilmiah ini dihadiri oleh 26 peserta yang merupakan perwakilan dari UPT Kementerian LHK seperti dari pejabat struktural dan fungsional dari BP2LHK Manado, BTN Bunaken, BPDASHL Tondano, BPKH Wilayah VI Manado, UPTD Tahura Gunung Tumpa dan beberapa peneliti dari Macaca Nigra Project beserta peneliti dari Portsmouth University United Kingdom. Kepala Balai KSDA Sulawesi Utara, Lukita Awang Nistyantara, S.Hut, M.Si. bertindak selaku pimpinan pertemuan ilmiah dan Kepala BP2LHK Manado, Ir. Dodi Garnadi, M.Si selaku moderator.

Lis Nurrani, S.Hut merupakan peneliti muda BP2LHK Manado yang telah menyelesaikan studinya di Yeungnam University Republic of Korea mengangkat topik penelitian “Beneficial Analysis of Clerodendrum minahassae Teijsm et Binn as Biological Products for Community Livelihood in North Sulawesi Province, Indonesia”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai manfaat tanaman Leilem (C. minahassae) yang merupakan tanaman endemik Sulawesi Utara dan potensinya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat disekitarnya. Hasil studi ethnobotani menunjukkan bahwa Leilem memiliki ragam manfaat bagi masyarakat Sulut terutama suku Minahasa diantaranya adalah sebagai sayuran, bahan pelengkap/rempah-rempah kuliner khas Sulut dan bahan herbal untuk menyembuhkan beberapa penyakit yang terkait dengan gangguan saluran pencernaan serta sebagai pagar hidup karena bunganya yang indah dipajang menjadi ornamental tree. Hal yang menarik dari penelitian ini adalah hampir seluruh masyarakat sepakat bahwa leilem bagus digunakan sebagai rempah campuran dalam masakan khas yang berbahan dasar daging. Dan berdasarkan hasil analisis kandungan nutrisinya, daun leilem tinggi akan kandungan vitamin C dan vitamin E hingga mencapai 389,23 mg/100 g dan 435,97 mg/g. Artinya selama ini masyarakat telah memiliki kearifan lokal tersendiri dalam memanfaatakan tumbuhan liar yang ada disekitarnya untuk keseimbangan imun tubuh pengkonsumsinya.

“Saat ini penggunaan leilem sebagai bahan pelengkap masakan masih didominasi dalam campuran daging babi yang biasa disebut masakan “Ba Leilem” dan daging-daging liar hasil buruan. Oleh karenanya sebaiknya dilakukan kreasi masakan yang menggunakan daging alam agar kuliner leilem dapat dinikmati oleh semua pihak”, ungkap Lis Nurrani. Sejalan dengan penyaji, Cahyo Riyadi, S.Hut, M.Agr.Sc selaku pembahas dalam kesempatan kali ini menekankan bahwa mengidentifikasi preferensi masyarakat sangat diperlukan, sehingga kebutuhan akan daun leilem meningkat dan kedepannya berpotensi untuk dikembangkan dalam skala industry mengingat hasil anlisis antioksidan menunjukan bahwa daun leilem potensial sebagai moderate antioksidan alami. Oleh karenanya salah satu pilihan rekomendasi yang diajukan dari hasil studi ini adalah mengedukasi masyarakat terkait nilai manfaat dan nutrisi leilem serta mendorong pemerintah daerah setempat untuk menetapkan leilem sebagai salah satu bahan pangan lokal yang potensial.

Supratman Tabba S.Hut merupakan Litkayasa Penyelia BP2LHK Manado yang mengangkat topik penelitian tentang “Invasion Influence of Spathodea campanulata Beauv on the Ecological Structure of Mount Gunung Tumpa Forest Park in North Sulawesi Province, Indonesia” telah menyelesaikan studinya di Chungbuk National University Republic of Korea disponsori secara penuh oleh KOFPI (Korea Forestry Promotion Institute). Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi kelimpahan spesies, struktur dan komposisi tegakan Spathodea di kawasan Tahura Gunung Tumpa serta menganalisis dampak negatif dan positif dari keberadaan spesies ini terhadap struktur ekologi kawasan. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa dominansi spatodea atau yang sering masyarakat lokal sebut sebagai kayu bunga (karena bunganya yang bagus) sangat tinggi, terus mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya jika dibandingkan dari hasil penelitian sebelumnya. Saat ini kerapatan spatodea mencapai 562 pohon/ha. Dominansinya yang konsisten pada semua tingkat pertumbuhan pohon mengakibatkan kurangnya atau semakin menekan pertumbuhan spesies alami lainnya. Sehingga keanekaragaman hayati di kawasan yang telah terinvasi spatodea cenderung lebih rendah dibandingkan keanekaragaman hayati di bagian wilayah yang belum terinvasi spesies ini, sebab spesies ini menunjukkan kecenderungan intoleransi untuk hidup bersama dan cenderung tidak memberikan ruang untuk pertumbuhan spesies lain. Inilah salah satu penyebab masih minimnya keberhasilan pengkayaan tanaman yang dilakukan di Tahura Gunung Tumpa.

Meski tumbuhan ini telah dinyatakan invasive diseluruh dunia namun mengapa belum ditetapkan sebagai jenis invasiv di Indonesia ini justru menjadi pertanyaan yang menarik. Karena parameter untuk bisa dikatakan tumbuhan invasiv adalah apabila suatu jenis tumbuhan telah mengakibatkan kerusakan secara ekologi dan ekonomis. Sebaiknya kasus kasus dimana Spathodea menjadi invasive di kompilasi untuk dijadikan argumentasi dalam memperkuat alasan agar jenis ini dapat dimasukkan dalam daftar spesies invasive yang memerlukan penanganan Kementerian LHK. Kedepannya setelah ditetapkan sebagai tumbuhan invasive lalu apa tindak selanjutnya, hal ini dipertanyakan oleh Iwanuddin, SP., M.Sc selaku pembahas hal senada juga lontarkan oleh Jus Rambeon, Kepala Seksi Perencanaan Tahura Gunung Tumpa Lalu bagaimana pula solusi untuk mengelola tumbuhan invasive ini yang harus dilakukan oleh pemangku kawasan dalam hal ini UPTD Tahura Gunung Tumpa lanjut Jus.

Inti dari pilihan rekomendasi yang diajukan oleh Supratman Tabba adalah agar sekiranya Spathodea campanulata dapat dipertimbangkan untuk ditetapkan sebagai tumbuhan invasive di Indonesia mengingat bahwa tumbuhan ini belum masuk dalam daftar tumbuhan invasive yang tetah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.94/MENLHK/Setjen/Kum.1/12/2016 tanggal 20 Desember 2016 tentang Invasive Species. Sebab penetapan tersebut adalah pintu masuk yang dapat melegalkan tindakan yang akan dilakukan terhadap spathodea. Mengingat bahwa kawasan konservasi merupakan wilayah yang dilindungi oleh Undang-Undang sehingga segala tindakan yang merusak apalagi membunuh suatu spesies dalam biodivesitas yang ada di dalamnya adalah melanggar hukum. Beberapa kawasan konservasi yang juga dilaporkan terinvasi oleh Spathodea campanulata yaitu Cagar Alam Tangkoko Batuangus dan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Selain mendiseminasikan hasil studinya di depan para kolega, ASN lingkup Kementerian LHK yang telah menyelesaikan studinya juga diwajibkan untuk mengajukan policy brief yang akan dikirimkan ke Pusat Litbang Sosek Kebijakan dan Perubahan Iklim untuk ditindaklanjuti. Hal ini bertujuan agar hasil-hasil penelitian dapat menjadi masukan kebijakan dalam pengelolaan hutan dan pembangunan masyarakat sekitarnya sebagai wujud kontribusi optimal dari Kementerian LHK. “Selain policy brief yang diajukan ke pemegang kebijakan di pusat, hasil-hasil studi ini juga harus dibuatkan info grafisnya. Info grafis ini dibuat sedemikian sederhana namun memuat informasi yang lengkap dan bahasa yang lugas agar dapat dipahami bukan hanya oleh aparatur di lingkungan KLHK beserta rekanannya saja namun juga oleh masyarakat secara luas. Dan tidak lupa mencantumkan kolom contact person pribadi penulisnya, hal ini penting untuk mempermudah bagi siapa saja yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai tanaman tersebut”, tutur Lukita Awang***(LN)

 Dokumentasi : Rinto Hidayat & Hanif Nurul Hidayah

  

Artikel terkait     :

Kunjungan Komisi IV DPR-RI Ke BP2LHK Manado: Kelahiran Anoa tidak hanya Menyelesaikan Masalah kita Tetapi Juga Masalah Dunia

The 3rd PSC Meeting of ITTO, BP2LHK Manado Bisa Menjadi Centre of Excelence of Cempaka

Tingkatkan Kemampuan Karyawan, PT. MSM-TTN Adakan Inhouse Training di BP2LHK Manado

Tingkatkan Kualitas dan Daya Saing Peneliti Dalam Jurnal Wasian

“Deandra” Nama dari Menko Perekonomian Darmin Nasution untuk Anoa BP2LHK Manado pada Puncak Acara Hari Konservasi Alam Nasional

Jelang Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), Kelahiran Anoa Ketiga di ABC BP2LHK Manado adalah Keberhasilan Dunia Konservasi di Indonesia

ABC BP2LHK Manado Kembali Berhasil Tingkatkan Populasi Anoa Melalui Kelahiran Bayi Anoa Yang Ketiga

Komitmen Dukung Pelestarian Anoa di ABC BP2LHK Manado, PT. Cargill Indonesia akan Bangun Klinik Hewan Pertama di Sulawesi Utara

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

                         

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manado

Jl. Raya Adipura Kel. Kima Atas, Kec. Mapanget, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Indonesia)

 

Email :

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Website :

www.manado.litbang.menlhk.go.id

www.balithut-manado.org

E-Jurnal :

http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JWAS

Dilihat: 53