Call For Paper

Banner

Employee of The Week

Banner

Form Kunjungan

Banner

Link

Banner
Banner
Banner

North Sulawesi Forestry

Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

Information & Complaint

Banner
“Kuskus Beruang Talaud” (Ailurops melanotis) : Satu jenis endemik yang hampir punah, namun kurang perhatian

Oleh : Ady Suryawan, S.Hut

Kuse...adalah nama lokal di Sulawesi Utara untuk kuskus. Berdasarkan catatan para peneliti, pada sekitar 5 juta tahun yang lalu, lempeng Autralia menekan ke arah Lempeng Pasifik dan Lempenng Eurasia sehingga terbenktuklah Pulau Sulawesi.

Satwa di Pulau ini sangat berbeda dengan Pulau Kalimantan dan Papua, sehingga sejak Alfred Russel Wallace mempublikasikan buku The Malay Archipelago tahun 1869 yang mencetuskan adanya garis imaginer yang membagi Indonesia menjadi 2 bagian berdasarkan fauna yaitu bagian barat merupakan fauna yang berasal dari Asia dan bagian timur mencerminkan fuana Australia.

Sulawesi Utara merupakan salah satu habitat bagi jenis marsuphial yang merupakan jenis satwa Bioecoregion Australasian dengan penyebaran di benua Australia, Papua, Selandia Baru, Tasmania dan kepualuan pasifik bagian Australia. Sulawesi Utara memiliki Ailurops ursinus (Kuskus Beruang Sulawesi), Strigocuscus celebences (Kuskus Kerdil) dan Ailurops melanotis (Kuskus Beruang Talaud). Ketiga jenis ini termasuk dalam keluarga Phalangeridae. A. ursinus dan S. celebences merupakan dua jenis yang hidup Sympatri. Sympatri adalah istilah untuk menjelaskan bahwa telah terjadi evolusi melalui isolasi reproduksi dimana suatu populasi yang sama dan saling bereproduksi kemudian terpisah akibat populasi hasil persilangan tidak bisa beregenerasi sehingga membentuk 2 populasi yang berbeda, kedua populasi tersebut hidup pada wilayah yang sama. Sedangkan untuk jenis A. melanotis diduga merupakan jenis yang muncul akibat spesiasi alopatrik.

Riley (2002) menjelaskan bahwa A. melanotis merupakan sub jenis dari A. u. melanotis  yang hidup di Pulau Salibabu dan diduga tersebar di Hutan Lindung Sahendaruman Pulau Sangihe. Informasi terkait morfologi, populasi, sebaran, perilaku jenis ini masih sangat minim, selain itu banyak masyarakat yang belum tahu endemisitas dari jenis ini.  Kuskus beruang Talaud hidup di Hutan Produksi Terbatas (HPT) Salibabu I seluas 358,8 ha dan HPT Salibabu II seluas 497,6 ha yang kondisinya telah banyak berubah menjadi kebun kenari, cengkeh dan pala.

Saat Kami singgah di Pulau Salibabu Kabupaten Kepulauan Talaud, 81% masyarakat sudah pernah berjumpa dengan Kuskus Beruang Talaud, namun hanya 57% responden yang mengerti bahwa jenis ini tidak ada ditempat lain (endemik pulau Salibabu), bahkan dari 113 responden, 39% nya pernah mencicipi daging Kuskus Beruang Talaud. IUCN telah mengelompokan jenis ini kedalam satwa dengan status konservasi Kritis, status ini menunjukan bahwa jenis ini tidak lebih dari 50 pasang yang hidup di alam. Status konservasi Kritis juga disandang oleh Badak Jawa dan Badak Sumatera, Gajah Sumatera, Harimau Sumatera dan Orangutan namun sedikit beruntung karena ke 5 satwa tersebut menjadi satwa bendera (Flagship species). Flagship species merupakan satwa yang digunakan sebagai ikon untuk mendefinisikan suatu habitat karena memiliki kharismatik dan berukuran besar.

Usaha konservasi untuk kelima jenis ini bagaikan langit dan bumi, dimana habitat, pendekatan masyarakat dan usaha breeding telah banyak dilakukan. Sedangkan untuk kuskus beruang talaud masih hidup pada areal HPT yang sangat mudah diakses oleh masyarakat.

Kami mencoba menggali pendapat masyarakat sekitar habitat dan menyampaikan bahwa Kuskus Beruang Talaud merupakan salah satu menu paling ditunggu saat pesta. Jantung kami serasa behenti mendenger kalimat tersebut dan masih terdengar tambahan pendapat yang menguatkan pernyataan tersebut. Berdasarkan responden, 64% berpendapat bahwa masyarakat memilki tanggung jawab terhadap kelestarian Kuskus Beruang Talaud ini, namun ada juga masyarakat yang tidak setuju terhadap upaya pemerintah melindungi Kuskus Beruang Talaud (11%).

Berdasarkan Survey sepanjang 3 km jalur transek tidak kami jumpai Kuskus Beruang Talaud. Informasi masyarakat menjelaskan bahwa pada bulan Oktober 2015 telah dilakukan penelitian dan menemukan 8 ekor Kuskus Beruang Talaud. Namun pada akhir tahun 2016 ada salah satu masyarakat yang memilhara 6 ekor kuskus dan saat kami telusuri pada bulan Mei 2017 ke 6 ekor tersebut sudah tidak ada lagi. Upaya kami untuk melihat secara langsung akhirnya membuahkan hasil yaitu pada bulan September kami menemukan 2 ekor Kuskus Beruang Talaud sedang tiduran di pohon Nantu berdiameter + 5 cm dan tinggi pohon + 3 meter. Pohon tersebut tepat berada disalah satu rumah warga di Desa Sereh. Kami hanya mampu memandang, mengambil gambar, dan mencoba mengedukasi secara persuasif keluarga tersebut dan tetangga disekitarnya.

Penyadartahuan masyarakat merupakan upaya awal hingga terakhir konservasi suatu Satwa. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana tertekannya populasi Kuskus Beruang Talaud di Pulau Salibabu ini, sementara tidak jauh dari Salibabu yaitu Pulau Karakeleng memiki kawasan konservasi Suaka Margasatwa Karakelang Utara dan Karakelang Selatan dengan luas total 24.669 ha. Kami merasa ini menjadi salah satu benteng bagi hidupan Kuskus Beruang Talaud.

Kami berharap dengan tulisan ini sebagian masyarakat dapat tergugah untuk meninggalkan budaya konsumsi satwa liar disamping mengganggu keseimbangan ekosistem hutan dan ancaman kepunahan, satwa liar merupakan penyebab utama penyakit Zoonosis. Sejarah penyakit penyakit mengerikan seperti Ebola, AIDS, Hepatitis, TBC, Rabies, Toxoplasmosis, Salmonellosis, Leptospirosis dan Herpes akibat hubungan manusia dengan Satwa Liar melalui konsumsi daging. Virus dan bakteri dalam darah dan daging satwa liar yang terinfeksi akan masuk kedalam tubuh, sebagian dapat dilumpuhkan namun sebagian lainnya memiliki potensi hidup dan berkembang. Daya imunitas setiap organisme berbeda, sehingga mengonsumsi daging dari satwa liar selain membawa potensi adanya penyakit juga memiliki potensi mewarisi sifat Liar dari Satwa tersebut. Seorang yang hobi makan daging memiliki potensi terserang berbagai penyakit mematikan pada usia tua lebih tinggi daripada seorang yang mengurangi konsumsi daging.

 

Share