Pinogu, Desa di Pedalaman Gorontalo dengan Masyarakat Mandiri dari Pemanfaatan Sumberdaya Hutan

Kategori: Artikel Ditayangkan: Selasa, 28 April 2020 Ditulis oleh Administrator

BP2LHK MANADO, Desa Pinogu secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Luas wilayah Kecamatan Pinogu 406,78 km2 yang terbagi ke dalam lima desa yaitu Pinogu Induk, Bangiyo, Pinogu Permai, Dataran Hijau, dan Tilongibila. Masyarakat Pinogu hidup secara sederhana dan jauh dari kota dengan akses ke Desa Pinogu yang terbilang sulit yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki melewati kawasan Taman Nasional Boganinani Wartabone (TNBNW) selama lebih kurang 10 jam atau menggunakan kendaraan bermotor dengan jarak tempuh sekitar 40 km dari Desa Tulabolo.

Isdomo Yuliantoro, S.Sos, M.Si salah satu peneliti Sosiologi Kehutanan di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manado (BP2LHK Manado) dalam penelitiannya yang telah di publikasikan di Jurnal Wasian Vol.6 No.2 tahun 2020 mengatakan bahwa masyarakat Pinogu sebagian besar menggantungkan hidup dari pertanian dan pengolahan hasil hutan. “Keterbatasan akses terhadap dunia luar menjadi alasan kuat mengapa  masyarakat Pinogu memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap sumberdaya hutan,” ujar Isdomo.

Lebih lanjut Isdomo juga mengatakan bahwa bentuk pemanfaatan sumberdaya hutan oleh masyarakat Pinogu cukup beragam baik untuk tujuan  produktif, konsumtif maupun untuk kepentingan adat. “Hasil hutan yang dimanfaatkan yaitu buah-buahan hutan, sayur, bambu, jamur, madu, tali utan dan sagu. Disamping itu, dalam memenuhi kebutuhan protein sebagian masyarakat Desa Pinogu masih melakukan perburuan terhadap satwa liar seperti anoa, burung, serta beberapa jenis ikan air tawar.

“Hasil penelitian yang kami lakukan menunjukkan bahwa secara keseluruhan tingkat persepsi masyarakat Pinogu terhadap manfaat hutan dan sumberdayanya dalam bentuk pemanfaatan sumberdaya hutan berupa hasil hutan kayu dan non kayu berada pada kategori cukup baik (79,76 dari rentang nilai 40 - 100) yang artinya masyarakat Pinogu menyadari bahwa kehidupan mereka sangat bergantung dari sumberdaya hayati hutan namun kurang memahami pentingnya  sumber daya hutan tersebut dikelola secara lestari.

Hasil dari penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga lainnya untuk berperan aktif melakukan pendampingan baik dalam hal peningkatan pengetahuan masyarakat Pinogu tentang hutan maupun penguatan kelembagaan dalam pengelolaan hutan,” pungkas Isdomo.***(IY)

Dokumentasi               : Harwiyadin Kama & Isdomo Yuliantoro

  

------------------------------------------------------------------------------------

Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manado

Jl. Raya Adipura Kel. Kima Atas, Kec. Mapanget, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Indonesia)

 

Email :

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Website :

www.manado.litbang.menlhk.go.id

www.balithut-manado.org

E-Jurnal :

http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JWAS

Dilihat: 591